Jumat, 03 Juli 2015
Pengaruh Bounding Attachment
Riri Novani Putri
17513775
2PA08
BAB 1
PENDAHULUAN
Ikatan antara orangtua dan bayi baru lahir sangatlah penting untuk diperhatikan. Sejak masa antenatal, ibu sudah harus mendapatkan informasi mengenai bonding attachment, karena sejak masa antenatal, hubungan antara ibu dan anak yang berlandaskan ikatan kasih sayang sudah mesti terjalin. Reaksi orangtua, khususnya ayah dan keluarga terhadap bayi yang baru lahir, berbeda-beda. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai hal, diantaranya reaksi emosi maupun pengalaman. Masalah lain juga dapat berpengaruh, misalnya masalah pada jumlah anak, keadaan ekonomi, dan lain-lain. Respon yang mereka perlihatkan pada bayi baru lahir, ada yang positif dan ada juga yang negatif. Ibu ketika masa antenatal juga harus diberi informasi mengenai respon ayah dan keluarganya terhadap kelahiran anak. Dengan begitu, ibu dapat mengantisipasi jikalau respon yang diberikan ayah dari anaknya ataupun keluarga tidak seperti yang ibu bayangkan.
Dalam masa ini freud menyebutkan saat ini bayi memasuki fase oral. Dimana tujuan aktivitas oral ini adalah untuk mengambil atau menerima objek pilihan yaitu puting susu kedalam tubuh bayi. Dengan dilakukannya pemberian ASI secara ekslusif segera setelah lahir, secara langsung bayi akan mengalami kontak kulit dengan ibunya yang menjadikan ibu merasa bangga dan diperlukan , rasa yang dibutuhkan oleh semua manusia. Pada masa reseptif oral, bayi mempunyai nilai yang jelas terhadap objek yang memberinya kesenangan dan kebutuhan mereka biasanya terpuaskan tanpa diganggu oleh rasa frustasi maupun kecemasan. Akan tetapi, begitu pula mereka tumbuh dewasa, mereka cenderung mengalami perasaan frustasi dan kecemasan karena penjadwalan, sesi menyusui, jeda waktu antarsesi menyusui yang semakin panjang, dan penyalipan bertahap. Kecemasan-kecemasan ini biasanya diikuti dengan perasaan ambivalen terhadap objek cinta mereka (yaitu ibu) dan kemampuan ego yang semakin besar untuk mempertahankan dirinya terhadap lingkungan dan terhadap kecemasan.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Bounding Attachment
Bounding attachment berasal dari dua suku kata, yaitu bounding dan attachment. Bounding adalah proses pembentukan sedangkan attachment (membangun ikatan). Jadi bounding attachment adalah sebuah peningkatan hubungan kasih sayang dengan keterikatan batin antara orangtua dan bayi. Hal ini merupakan proses dimana sebagai hasil dari suatu interaksi terus-menerus antara bayi dan orang tua yang bersifat saling mencintai memberikan keduanya pemenuhan emosional dan saling membutuhkan. Konsep ikatan perlahan-lahan berkembang, mungkin mulai di awal kehamilan dan berlanjut selama berbulan-bulan, bertahun-tahun dan mungkin seumur hidup setelah melahirkan.
Bonding bukan sebuah proses magical atau seketika, juga bukan dirangsang menurut permintaan atau pesanan. Perasaan kehangatan yang dimulai kadang sudah dirasakan,bahkan sebelum konsepsi dan tentu selama kehamilan dan akan terus berkembang selama beberapa minggu, bulan dan tahun setelah kelahiran. Ada kemungkinan bahwa pengalaman kelahiran yang baik (dapat memfasilitasi pertumbuhan cinta, karena ibu akan mengurangi rasa kekecewaan terhadap diri sendiri dan kondisiemosional ibu akan lebih terfokus untuk memberikan seluruh perhatian dirinya kepada bayinya. Kesulitan dalam proses persalinan yang mengecewakan dapat menghambat proses terjalinnya ikatan antara ibu dengan bayinya.
a. Bounding attachment menurut tokoh-tokoh yaitu :
Harfiah, Bounding : ikatan, Attachment : sentuhan
Menurut Klaus, Kenell (1982) : bagian penting dari ikatan ialah perkenalan.
Nelson (1986), Bounding : dimulainya interaksi emosisensorik fisik antara orang tua dan bayi segera setelah lahir, Attachment: ikatan yang terjalin antara individu yang meliputi pencurahan perhatian, yaitu hubungan emosi danfisik yang akrab.
Saxton dan Pelikan (1996), Bounding : adalah suatu langkah untuk mengunkapkan perasaan afeksi (kasih sayang) oleh ibu kepada bayinya segera setelah lahir Attachment: adalah interaksi antara ibu dan bayi secara spesifik sepanjang waktu.
Parmi (2000) : suatu usaha untuk memberikan kasih sayang dan suatu proses yang saling merespon antara orang tua dan bayi lahir.
Perry (2002), Bounding : proses pembentukan attachment atau membangun ikatan. Attachment: suatu ikatan khusus yang dikarakteristikkan dengan kualitas-kualitas yang terbentuk dalam hubungan orang tua dan bayi.
Subroto (Cit Lestari, 2002) : sebuah peningkatan hubungan kasih sayang dengan keterikatan batin antara orang tua dan bayi.
b. Tahap-Tahap Bounding Attachment :
1) Perkenalan (acquaintance), dengan melakukan kontak mata, menyentuh, erbicara, dan mengeksplorasi segera setelah mengenal bayinya.
2) Bounding (keterikatan)
3) Attachment, perasaan sayang yang mengikat individu dengan individu lain.
Adapun interaksi yang menyenangkan, misalnya :
1) Sentuhan pada tungkai dan muka bayi secara halus dengan tangan ibu.
2) Sentuhan pada pipi.
Sentuhan ini dapat menstimulasi respon yang menyebabkan terjadinya gerakan muka bayi kearah muka ibu atau kearah payudara sehingga bayi akan mengusap-usap menggunakan hidung serta menjilat putingnya, dan terjadilah rangsangan untuk sekresi prolaktin.
3) Tatap mata bayi dan ibu.
Ketika mata bayi dan ibu saling tatap pandang, menimbulkan perasaan saling memiliki antara ibu dan bayi.
4) Tangis bayi.
c. Manfaat Bounding Attachment
Adapun manfaat dari implementasi teori bounding attachment jika dilakukan secara baik yaitu:
1. Bayi merasa dicintai, diperhatikan, mempercayai, menumbuhkan sikap sosial.
2. Bayi merasa aman, berani mengadakan eksplorasi.
3. Akan sangat berpengaruh positif pada pola perilaku dan kondisi psikologis bayi kelak.
Kondisi yang Memengaruhi Sikap Orang Tua Terhadap Bayi
1. Kurang kasih sayang.
2. Persaingan tugas orang tua.
3. Pengalaman melahirkan.
4. Kondisi fisik ibu setelah melahirkan.
5. Cemas tentang biaya.
6. Kelainan pada bayi.
7. Penyesuaian diri bayi pascanatal.
8. Tangisan bayi.
9. Kebencian orang tua pada perawatan, privasi dan biaya pengeluaran.
10. Gelisah tentang kenormalan bayi.
11. Gelisah tentang kelangsungan hidup bayi.
12. Penyakit psikologis atau penyalahgunaan alkohol dan kekerasan pada anak.
d. Elemen-Elemen Bounding Attachment
Sentuhan atau indera peraba : dipakai secara ekstensif oleh orang tua dan pengasuh lain sebagai suatu sarana untuk mengenali bayi baru lahir dengan cara mengeksplorasi tubuh bayi dengan ujung jarinya.
Kontak mata : Ketika bayi baru lahir mampu secara fungsional mempertahankan kontak mata, orang tua dan bayi akan menggunakan lebih banyak waktu untuk saling memandang. Beberapa ibu mengatakan dengan melakukan kontak mata mereka merasa lebih dekat dengan bayinya (Klaus, Kennell, 1982).
Suara : Saling mendengar dan merespon suara anata orang tua dan bayinya juga penting. Orang tua menunggu tangisan pertama bayinya dengan tegang.
Aroma : Ibu mengetahui bahwa setiap anak memiliki aroma yang unik (Porter, Cernoch, Perry, 1983). Sedangkan bayi belajar dengan cepat untuk membedakan aroma susu ibunya (Stainto, 1985).
Entrainment : Bayi baru lahir bergerak-gerak sesuai dengan struktur pembicaraan orang dewasa. Mereka menggoyang tangan, mengangkat kepala, menendang-nendangkan kaki, seperti sedang berdansa mengikuti nada suara orang tuanya. Entrainment terjadi saat anak mulai berbicara. Irama ini berfungsi memberi umpan balik positif kepada orang tua dan menegakkan suatu pola komunikasi efektif yang positif.
Bioritme : Anak yang belum lahir atau baru lahir dapat dikatakan senada dengan ritme alamiah ibunya. Untuk itu, salah satu tugas bayi baru lahir ialah membentuk ritme personal (bioritme). Orang tua dapat membantu proses ini dengan memberi kasih sayang yang konsisten dan dengan memanfaatkan waktu saat bayi mengembangkan perilaku yang responsif. Hal ini dapat meningkatkan interaksi sosial dan kesempatan bayi untuk belajar.
e. Hambatan Bounding Attachment
1. Kurangnya support sistem.
2. Ibu dengan resiko (ibu sakit).
3. Bayi dengan resiko (bayi prematur, bayi sakit, bayi dengan cacat fisik).
4. Kehadiran bayi yang tidak diinginkan.
f. Respon Ayah Dan Keluarga
Respon terhadap bayi baru lahir berbeda antara ayah yang satu dengan yang lain. Hal ini tergantung, bisa positif bisa negative.
Respon positif dapat ditunjukkan dengan :
1. Ayah dan keluarga menyambut kelahiran bayinya dengan bahagia.
2. Ayah bertambah giat bekerja untuk memenuhi kebutuhan bayi dengan baik.
3. Ayah dan keluarga melibatkan diri dalam perawatan bayi.
4. Perasaan sayang terhadap ibu yang telah melahirkan bayi.
Respon negatif dapat ditunjukkan dengan :
1. Kelahiran bayi tidak dinginkan keluarga karena jenis kelamin yang tidak sesuai keinginan.
2. Kurang berbahagia karena kegagalan KB.
3. Perhatian ibu pada bayi yang berlebihan yang menyebabkan ayah merasa kurang mendapatperhatian.
4. Faktor ekonomi mempengaruhi perasaan kurang senang atau kekhawatiran dalam membina keluarga karena kecemasan dalam biaya hidupnya.
5. Rasa malu baik bagi ibu dan keluarga karena anak lahir cacat.
6. Anak yang dilahirkan merupakan hasil hubungan zina, sehingga menimbulkan rasa malu dan aib bagi keluarga.
g. Keuntungan Bounding Attachment
Keuntungan Bounding Attachment yaitu bayi merasa dicintai, diperhatikan, mempercayai, menumbuhkan sikap sosial, bayi merasa aman, berani mengadakan eksplorasi.
h. Perilaku memfasilitasi dan Perilaku penghambat.
Perilaku Memfasilitasi :
1. Menatap, mencari ciri khas anak.
2. Kontak mata.
3. Memberikan perhatian.
4. Menganggap anak sebagai individu yang unik.
5. Menganggap anak sebagai anggota keluarga.
6. Memberikan senyuman.
7. Berbicara/bernyanyi.
8. Menunjukkan kebanggaan pada anak.
9. Mengajak anak pada acara keluarga.
10. Memahami perilaku anak dan memenuhi kebutuhan anak.
11. Bereaksi positif terhadap perilaku anak.
Perilaku Penghambat :
1. Menjauh dari anak, tidak memperdulikan kehadirannya, menghindar, menolak untuk menyentuh anak.
2. Tidak menempatkan anak sebagai anggota keluarga yang lain, tidak memberikan nama pada anak.
3. Menganggap anak sebagai sesuatu yang tidak disukai.
4. Tidak menggenggam jarinya.
5. Terburu-buru dalam menyusui.
6. Menunjukkan kekecewaan pada anak dan tidak memenuhi kebutuhannya.
B. Perhatian Orang Tua
Perhatian orang tua adalah pemusatan energi psikis yang tertuju pada suatu objek yang dilakukan oleh ayah dan ibu terhadap anaknya dalam suatu aktivitas. Ada Macam-macam Perhatian Orang Tua yang dapat ditinjau dari beberapa sudut pandang yang pada prinsipnya meliputi :
1). Macam-macam perhatian orang tua menurut cara kerjanya, dibedakan menjadi :
1.1). Perhatian spontan, yaitu perhatian yang tidak disengaja atau tidak sekehendak subjek.
1.2). Perhatian refleksi, yaitu perhatian yang disengaja atau sekehendak subjek.
2). Macam-macam perhatian orang tua menurut intensitasnya, dibedakan menjadi :
2.1). Perhatian intensif, yaitu perhatian yang banyak menyertakan aspek kesadarannya.
2.2). Perhatian tidak intensif, yaitu perhatian yang tidak banyak menyertakan aspek kesadaran.
3). Macam-macam perhatian orang tua menurut luasnya, dibedakan menjadi :
3.1). Perhatian Terpusat, yaitu perhatian yang tertuju pada lingkup objek yang sangat terbatas, perhatian ini sering disebut dengan perhatian Konsentratif.
3.2). Perhatian Terpencar, yaitu perhatian yang tertuju kepada macam-macam objek.
Sedangkan menurut Patty, dkk membedakan perhatian menjadi tiga yaitu :
(1). Perhatian spontan dan perhatian paksaan, bila kita senang terhadap suatu perhatian kita tercurah secara spontan. Sebaliknya apabila kita tidak senang kepada sesuatu, kita harus memaksakan perhatian kepadanya.
(2). Perhatian Konsentratif dan perhatian distributif, bila kita memusatkan perhatian kepada satu hal saja, maka kita menggunakan perhatian konsentratif. Dan manakala kita memperhatikan beberapa hal maka kita menamakan perhatian tersebut distributif.
(3). Perhatian sembarangan ( random attention ) yaitu perhatian semacam ini tidak tepat, berpindah-pindah dari objek yang satu kepada yang lain dan tidak tahan lama.
C. Perkembangan Psikis Bayi
Bila ibu tidak terlalu dekat dengan anaknya maka akan muncul tiga kemungkinan seperti yang dikemukakan oleh Maria Ainsworth yaitu :
Pada masa kedekatan rasa aman (secure attachment), bayi merasa gembira dan antusias ketika ibu mereka kembali dan mau memulai kontak. Contohnya mereka akan mendatangi ibu mereka dan ingin dipegang ibunya. Bayi yang mengembangkan kedekatan dengan rasa aman merasa yakin bahwa pengasuhnya mudah didatangi dan bertanggung jawab atas dirinya. Perasaan aman dan bergantung pada pengasuh ini merupakan pondasi untuk keinginan bermain dan eksplorasi.
Pada gaya kedekatan cemas menolak (anxious-resistant), bayi bersifat ambivalen. Ketika ibu mereka meninggalkan ruangan, mereka menjadi kesal dengan cara yang tidak biasa. Namun, ketika ibu mereka kembali, mereka berupaya membina kontak sekaligus juga menolak kedekatan dengan ibunya. Pada kedekatan cemas-menolak, bayi-bayi memberi pesan yang sangat bertolak-belakang. Disatu sisi mereka mencari kontak dengan ibu mereka, namun disisi lain mereka menggeliat untuk diturunkan dan bisa melempar mainan yang disodorkan oleh ibunya.
Gaya kedekatan cemas menghindar (anxious-avoidant), pada kedekatan ini bayi tetap tenang ketika sang ibu meninggalkan mereka dan mereka juga menerima kehadiran orang asing. Ketika ibu mereka kembali, mereka cenderung mengabaikan dan menghindarinya. Bayi yang tergolong dalam kedua jenis gaya kedekatan yang diikuti perasaan tidak aman (cemas menghindar dan cemas menolak) cenderung kurang memiliki kemampuan untuk terlibat dalam permainan dan eksplorasi efektif.
D. Analisis Kasus
Sibling Rivarlry
Sibling rivalry adalah kompetisi antara saudara kandung untuk mendapatkan cinta kasih, afeksi dan perhatian dari satu kedua orang tuanya, atau untuk mendapatkan pengakuan atau suatu yang lebih atau kecemburuan, persaingan dan pertengkaran antara saudara laki-laki dan saudara perempuan. Hal ini terjadi pada semua orang tua yang mempunyai dua anak atau lebih. Sibling rivalry atau perselisihan yang terjadi pada anak-anak tersebut adalah hal yang biasa bagi anak-anak usia antara 5-11 tahun. Bahkan kurang dari 5 tahun pun sudah sangat mudah terjadi sibling rivalry.
Penyebab Sibling Rivalry
Banyak faktor yang menyebabkan sibling rivalry, antara lain:
1. Masing-masing anak bersaing untuk menentukan pribadi mereka, sehingga ingin menunjukkan pada saudara mereka.
2. Anak merasa kurang mendapatkan perhatian, disiplin dan mau mendengarkan dari orang tua mereka.
3. Anak-anak merasa hubungan dengan orang tua mereka terancam oleh kedatangan anggota keluarga baru/ bayi.
4. Tahap perkembangan anak baik fisik maupun emosi yang dapat mempengaruhi proses kedewasaan dan perhatian terhadap satu sama lain.
5. Anak frustasi karena merasa lapar, bosan atau letih sehingga memulai pertengkaran.
6. Kemungkinan, anak tidak tahu cara untuk mendapatkan perhatian atau memulai permainan dengan saudara mereka.
7. Dinamika keluarga dalam memainkan peran.
8. Pemikiran orang tua tentang agresi dan pertengkaran anak yang berlebihan dalam keluarga adalah normal.
9. Tidak memiliki waktu untuk berbagi, berkumpul bersama dengan anggota keluarga.
10. Orang tua mengalami stres dalam menjalani kehidupannya.
11. Anak-anak mengalami stres dalam kehidupannya.
12. Cara orang tua memperlakukan anak dan menangani konflik yang terjadi pada mereka.
Segi Positif Sibling Rivally
Meskipun sibling rivalry mempunyai pengertian yang negatif tetapi ada segi positifnya, antara lain:
1. Mendorong anak untuk mengatasi perbedaan dengan mengembangkan beberapa keterampilan penting.
2. Cara cepat untuk berkompromi dan bernegosiasi.
3. Mengontrol dorongan untuk bertindak agresif.
Oleh karena itu agar segi positif tersebut dapat dicapai, maka orang tua harus menjadi fasilitator.
Mengatasi Sibling Rivally
Beberapa hal yang perlu diperhatikan orang tua untuk mengatasi sibling rivalry, sehingga anak dapat bergaul dengan baik, antara lain:
1. Tidak membandingkan antara anak satu sama lain.
2. Membiarkan anak menjadi diri pribadi mereka sendiri.
3. Menyukai bakat dan keberhasilan anak-anak Anda.
4. Membuat anak-anak mampu bekerja sama daripada bersaing antara satu sama lain.
5. Memberikan perhatian setiap waktu atau pola lain ketika konflik biasa terjadi.
6. Mengajarkan anak-anak Anda cara-cara positif untuk mendapatkan perhatian dari satu sama lain.
7. Bersikap adil sangat penting, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan anak. Sehingga adil bagi anak satu dengan yang lain berbeda.
8. Merencanakan kegiatan keluarga yang menyenangkan bagi semua orang.
9. Meyakinkan setiap anak mendapatkan waktu yang cukup dan kebebasan mereka sendiri.
10. Orang tua tidak perlu langsung campur tangan kecuali saat tanda-tanda akan kekerasan fisik.
11. Orang tua harus dapat berperan memberikan otoritas kepada anak-anak, bukan untuk anak-anak.
12. Orang tua dalam memisahkan anak-anak dari konflik tidak menyalahkan satu sama lain.
13. Jangan memberi tuduhan tertentu tentang negatifnya sifat anak.
14. Kesabaran dan keuletan serta contoh-contoh yang baik dari perilaku orang tua sehari-hari adalah cara pendidikan anak-anak untuk menghindari sibling rivalry yang paling bagus.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan :
Jadi bounding attachment adalah suatu ikatan yang terjadi di antara orang tua dan bayi baru lahir, yang meliputi pemberian kasih sayang dan pencurahan perhatian yang saling tarik menarik. Selain itu,pengertian bounding attachment adalah suatu proses sebagai hasil dari suatu interaksi terus-menerus antara bayi dan orang tua yang bersifat saling mencintai serta memberi keduanya pementuan emosional dan saling membutuhkan. Proses ikatan batin antara ibu dan bayinya ini diawali dengan kasih sayang terhadap bayi yang dikandung, dan dapat dimulai sejak kehamilan. Dan akan lebih baik jika ibu menghiraukan saja bayi yang sedang dikandungnya baik itu dengan sentuhan untuk meraba gerakan janin dan membiarkan janin mendengar ibunya berbicara terhadapnya. Setelah kelahiran bayi juga akan menimbulkan respon dari sang ayah dan keluarga, dimana respon tersebut ada yang bersifat positif dan negatif. Seorang ayah dan keluarga seharusnya memberikan respon yang positif dan memfasilitasi bayi agar merasa diterima dan dapat tumbuh serta berkembang tanpa ada masalah penolakan dari ayahnya. Untuk meminimalisir segala bentuk respon ayah yang negatif, kehamilan ibu sebaiknya harus benar-benar direncanakan. Ikatan batin antara bayi dan orang tuanya berkaitan erat dengan pertumbuhan psikologi sehat dan tumbuh kembang bayi.
Saran :
Diharapakan di rumah sakit selalu diterapkan IMD (Inisiasi Menyusui Dini) pada awal mula kelahiran di ruangan agar menimbulkan kenyamanan, kehangatan dan baik untuk ibu dalam mempercepat pelepasan plasenta. Diharapkan pasien mengerti tujuan dari bounding attachment. Tentunya sang ibu harus siap dengan konsekuensi atas perbuatannya terhadap bayinya. Dimana kelekatan dan kasih sayang seorang ibu itu sangat mempengaruhi psikologis anaknya sampai dewasa. Orang tua yang kurang bisa berkomunikasi dengan anaknya akan menimbulkan kerenggangan atau konflik hubungan, sebaliknya orang tua yang dapat menerima anaknya sebagaimana adanya, maka si anak cenderung dapat tumbuh, berkembang, membuat perubahan-perubahan yang membangun, belajar memecahkan masalah-masalah, dan secara psikologis semakin sehat, semakin produktif, kreatif dan mampu mengaktualisasikan potensi sepenuhnya. Bahkan nantinya saat si bayi sudah menjadi kakak, dia akan bisa belajar bagaimana menghadapi adiknya. Dan pada saat kehamilan, anak pertama atau tertua ibu sebaiknya diberi pengertian bahwa sebentar lagi dia akan memiliki seorang adik yang akan menemaninya, anak juga jangan sampai merasa perhatiannya berkurang karena ibu. Karena perhatian orang tua terhadap anak disimpulkan sebagai pemusatan tenaga psikis yang tertuju pada suatu objek yang dilakukan oleh orang tua ( ayah dan ibu ) yang berupa : perhatian spontan, perhatian refleksi, perhatian intensif, perhatian terpusat dan perhatian terpencar.
Referensi :
Feist, Jess&Feist, Georgory J.(2014). Teori Kepribadian, Theories of personality. Jakarta: Salemba Humanika
Ambarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia. (hlm: 7172).
Bahiyatun. 2009. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Nifas Normal. Jakarta: EGC. (hlm: 56- 57).
Desty, dkk. 2009. Respon Orang Tua Terhadap Bayi Baru Lahir. Akademi Kebidanan Mamba’ul ‘Ulum Surakarta.
Kyla, B. 2009. Sibling Rivalry. Diunduh 29 Januari 2009, 06: 49 PM. med.umich.edu/yourchild/topics/sibriv.htm
Makalah Kebidanan “Bounding Attachment”
0 Comments:
Subscribe to:
Posting Komentar (Atom)